pagi yang cerah, sepoi angin yang lembut, terik mentari yang hangat dan awan putih tipis menyelimuti kebun buah pear. Embun pagi yang masih menempel di dedaunan, enggan untuk turun ke tanah. ia menggeliat memanjakan tubuhnya, seolah enggan tuk menetes. Belalang kecil dengan mata setengan terpejam dan masih agak lengket menguap lagi lalu tertidur lagi. Jangkrik-jangkrik tak ada bunyinya, mungkin ia juga masih terlelap. Burung pipit di dalam sarang, hanya sesekali menengok belalang kecil berwajah manis yang masih terlelap. Rupanya pagi itu keberuntungan si belalang kecil, ia tak harus menjadi sarapan pagi si burung pipit. Ketupai kecil mendengur kecil di lobang kayu. Ia menjulurkan kepalanya sedikit keluar. lidahnya menjilat-jilat bibir mungilnya, mungkin ia sedang bermimpi mencicipi buah per yang sebentar lagi akan dipanen. Mulutnya yang komat-kamit mungkin sedang berdoa agar yang empunya buah pear , berbaik hati padanya dan menyisakan sebuah atau dua buah pear untuknya. Air liurnya terlihat mulai menetes. Mereka benar-benar terbuai oleh sepoi angin yanglembut, hangat sinar mentari, dan awan putih yang menyelimuti kebun pear itu. hem... kehidupan yang damai dan tenang. Si tupai kecil memicingkan matanya sebelah. Ia melirik kakaknya, belalang kecil, burung pipit, rumput, embun pagi dan semuanya yang masih lelap dan mendengur. Ia mencoba membuka kedua matanya tapi masih berat sekali. Ia pun menutup mata lagi.
sang polisi patroli rupanya sudah berkeliling dari tadi. dari satu gunung ke gunung satunya, dari satu pohon ke pohon lainnya, dari satu kebun ke kebun lainnya. ia lega semuanya berjalan lancar. ia terus mengamati ke bawah, ke pohon-pohon, ke daun-daun, semua ia amati denga ketajaman matanya. tak ada satu binatang pun yang luput dari penglihatanya meskipun ia terbang tinggi di angkasa. sesekali ia salto di awang-awang. ia sedang ceria rupanya. ia meluncur lagi dengan tenang.
sang polisi patroli dengan mendadak mengerem laju terbanya. terdengar bunyi kepakan sayap yang lumayan keras saking mendadaknya. ia mencari landasan yang nyaman di pucuk pohon. ia curiga, ketika melewati satu bukit yang seolah tak ada tanda kehidupan. tak ada kicuan burung pipit, tak ada jeritan si tupai kecil, tak ada erangan si belalang kecil tak ada tetesan embun yang biasa membasahi bulu emasnya. ia mengamati satu persatu. ia melihat si tupai besar masih mengigau, burung-burung pipit masih berdesak-desakan disarangnya.
"ha!" ia kaget ketika mendengar suara ribut dari balik pohon pear. ia beruhasa mencari tau siapa yang sedang bertengkar. rupanya dari pohon pear itulah sumber pertengkaran. si bulu emas, terpaksa harus menyelesaikan kasus itu. "hemmm.. rupanya si tupai kecil dan si burung pipit yang sedang bertengkar". ia mengintip pertengkaran itu dari balik pohon pear. dengan seksama ia mendengarkan apa yang di ucapkan mereka, agar tau apa sember pertengkarannya.
"itu untukmu, yang itu untukku"
"kok bersih punya kamu, besar punya kamu dan lebih menarik punya kamu?"
"kamu kan punya ekor yang panjang, jadi bisa kamu pakai untuk membersikan sendiri"
"akmu juga punya ekor, apa bedanya sama ekorku?"
"ekormu bulunya halus, kalau punyaku keras, nanti bisa lecet"
"ahhh... gak mau, aku mau yang itu"
"sudah jangan banyak komentar. yang penting kan rasanya, bukan bersih, besar atau menariknya"
" tukeran. aq mau punya kamu itu"
"gak bisa, tadi aku udah di pesan, aku petik yang itu, kamu yang itu. gak boleh di tukar-tukar"
"emang kenapa kalau di tukar?"
"gak bagus nantinya. kita harus terima bagian kita sendiri. kalau di kasih ini, atau itu ya udah terima"
"ahhh... gak mau...! aku mau yang itu. aku mau punya kamu!!!!"
"sssssssssssssttttttttttt,,,,,,,,,,,,! jangan teriak-teriak. nanti yang punya dengar. kita bsa di tembak"
"BIARINNNN....!!!!!! BIAR KAMU DI TEMBAK! KAMU GK MAU TUKERAN SAMA AKU"
"TUPAIIII...!!!!!!!!! JANGAN TERIAK-TERIAK!!! KAMU BODOH"
"KAMU YANG BODOH!!!"
"KAMU...!"
"KAMU...!"
"PLAAKKK!!!"
si tupai kecil dan pipit langsung jatuh tersungkur, saat bulu emas menampar kepalanya dengan sayap bajanya. si tupai kecil dan pipit ketakutan melihat paruh bulu emas yang lancip tan terlihat tajam. tupai besar, embun, daun, belalang, pipit-pipit yang lain terbangung sekaligus tercengang. mereka mengusap-usap mata. memastikan bahwa yang dilihat bukanlah mimpi.bulu emas memarahi sekaligus menasihati, si tupai kecil dan burung pipit. akhirnya mereka berdamai, bersalaman, berpelukan dan bercanda. sorak sorai terdengar meriah membahana memecah keheningan pagi yang baru saja terjadi. semua burung yang bertengger di pucuk-pucuk pohon, memberi senyum hangat untuk bulu emas, tak mau ketinggalan si bangsa tupai, belalang, semut, capung, kupu-kupu. mereka beterbangan menari mengelilingi sang Bulu Emas, embun pagi dengan cepat meneteskan tubuhnya ke blu emas. si tupai tua menghampiri ssang Bulu Emas untuk mengucapkan terimakasih. Bulu Emas menyambut dengan ramah. mereka segera memulai PESTA panen raya. tupai-tupai yang keranjingan segera mengacak-acak buah pear. ia memilih yang paling bagus, mulus, seksi dan yang paling bahenol. hahaha. burung pipit tak henti-hentinya mematuk-matuk pear dari satu pohon ke pohon lainya. SI TUPAI KECIL tlah memulai PESTA panen rayanya.
"DUAAARRR........ DUARRRR.......DUARRRR...." tak asing lagi bagi mereka untuk mengenali suara itu. ya itu, bunyi senapan angin. seketika pesta berhenti. sunyi kembali menghantui. sang Bulu Emas, mengamati gerak-gerik dua pemuda yang memegang senapan angin sambil mengincar sasaran itu. "DEG...!" jantung jantung si Bulu Emas berdetak kaget, saat mendapati dua pemuda tadi mengarahkan senapan ke dadanya.
"DUARRRRRRR............"
Si bulu Emas tertembak...
dia jatuh tapi untungnya masih bisa hinggap di ranting pohon. akhirnya ia di sembunyikan si tupai tua ke lobang kayu untuk di periksa bagian mana yang tertembak tadi.
... Lihat Selengkapnya
"haaa??" si tupai kaget dan jantungnya langsung berdetak kencang setelah melihat luka si bulu emas. saking kencangnya jantung si tupai tua berdetak. akhirnya....
"DUARRRR...." dan si tupai tua.....
hiks... hiks...hiks...
si Bulu emas menangis....
air matanya berlinang bercucuran...
ia tak tahan melihat apa yang baru saja terjadi...
si tupai kecil menitikan air mata... ia melihat kakaknya...
air mata si tupai tua pun terus berderai...
dan...
penulis bingung, sebenarnya apa yang terjadi kok pada nangis semua. aneh...
hehehe

Tidak ada komentar:
Posting Komentar