Rama...
jemarimu mengeras, mengepal, penuh angkara
darahmu mendidih, memuncak di ubun-ubun
matamu membelalak menatap purnama
kakimu gemetar, seakan mampu menginjak Rahwana hingga ke dasar bumi
Rama...
bara api menyala berkobar di tungku hatimu
tetesan embun tlah menjadi minyak
kobaran api tlah menyulut seluruh ragamu
seolah kau mampu membumi hanguskan Tanah Alengka
Rama...
darah dan api tlah menyatu dalam jiwamu...
kini kau tlah diselimuti dendam dan angkara...
terlintas dimatamu bayang semu Dewi Sintha...
ia sedang Berbulan Madu di tanah Alengka...
ia tersenyum sinis menatapmu yang tak berdaya
Rama...
kau kesatria yang tersohor di seluruh penjuru Astina
tak dinyana hatimu sangat lapuk dan rapuh...
Rama...
cobalah kau tersenyum
cobalah kau tersenyum...
tat kala mata hatimu melihat Dewi Shinta sedang bercengkrama di balik purnama dengan Rahwana
Rama... ... ... ...
Sabtu, 13 Februari 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar