ku lihat bocah kecil itu duduk diam terpaku
ia tatap untaian benang merah yang melayang-layang di udara
tubuhnya menggigil menahan isak tangis
tak henti-hentinya air mata itu menitik
kakek tua berjenggot putih menhampirinya
penuh kasih sayang sang kakek membelai rambut bocah itu
sang kakek mencoba menatap untaian benang merah yang melayang disapu angin
sang kakek menundukkan kepalanya, ia pangku bocah itu
ku hampiri mereka dengan penuh tanya,, kenapa sang kakek tadi menundukkan kepala...
kusodorkan air putih di dalam botol bambu tempat minumku ke bocah kecil itu
dengan napas tersendat-sendat ia meneguk setitik demi setitik air itu
sang kakek menyuruhku duduk disampingnya
kakek itu mengatakan sesuatu yang aku tak tahu apa maksudnya
"Bocah ini menangis, layang-layangnya putus
ia tak ingin layang-layangnya terbang tinggi
ia tak ingin layang-layangnya lepas
ia menarik sekuat mungkin benang merah itu
ia tak tahu kerasnya angin tak bisa dilawan
jika kau ingin layang-layang itu tetap kau milik
biarkan ia terbang tinggi
jangan pernah menarik untaian benang merah itu
karena layang-layang itu milik angin, bukan milikmu
tapi kau bisa mendapatkan layang-layang itu"
lalu kakek itu pergi
ia gendong bocah kecil
aku tetap duduk tak mengerti
mungkin hanya kakek itu yang mengerti...
Sabtu, 13 Februari 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar